Rejomulyo, 18 September 2025 - Desa Rejomulyo kembali menyelenggarakan sebuah acara tahunan yang sarat makna spiritual dan kultural dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Bertempat di Balai Desa Rejomulyo, seluruh warga masyarakat berkumpul untuk melaksanakan kegiatan keagamaan berupa Yasinan, kirim doa bersama, serta sodakohan yang telah diwariskan turun-temurun sejak zaman para pendiri desa. Lebih dari sekadar acara tahunan, kegiatan ini menjadi ruang spiritual dan kultural yang menyatukan masa lalu dan masa kini dalam harmoni yang indah.
Sejarah kegiatan ini berakar dari perjuangan Mbah Rasman, tokoh perintis Desa Rejomulyo. Dikisahkan bahwa saat pertama kali membuka lahan desa, Mbah Rasman bersama rombongan menanam berbagai jenis tanaman seperti padi, jagung, singkong dan berbagai jenis tanaman lainnya. Namun, hasil jerih payah mereka selalu gagal dinikmati karena tanaman habis dirusak oleh binatang buas yang kala itu banyak menghuni hutan sekitar. Dalam keprihatinan, Mbah Rasman memilih untuk mengandalkan kekuatan spiritual. Pada bulan Maulid, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang penuh berkah, beliau menyembelih dua ekor kambing sebagai bentuk sodakohan dan mengadakan doa bersama, memohon perlindungan serta pertolongan kepada Allah SWT agar hasil pertanian mereka terhindar dari gangguan hewan liar.
Apa yang dilakukan Mbah Rasman bukan hanya sebuah ikhtiar, tetapi juga bentuk keikhlasan dan keyakinan yang mendalam. Dan benar saja, sejak saat itu, tanaman yang mereka tanam tidak lagi rusak, dan panen pun bisa dinikmati. Kejadian itu menjadi titik balik penting yang tidak hanya mengubah nasib masyarakat kala itu, tetapi juga melahirkan sebuah tradisi spiritual yang dijalankan hingga kini. Tradisi kirim doa bersama dan sodakohan di bulan Maulid menjadi bentuk syukur kepada Allah sekaligus penghormatan terhadap perjuangan dan doa para leluhur.
Pada tahun ini, masyarakat Desa Rejomulyo dengan semangat gotong royong menyembelih tiga ekor kambing sebagai bagian dari sodakohan. Setelah selesai pembacaan Yasin dan doa bersama, seluruh warga makan bersama di Balai Desa dengan hidangan dari daging kambing yang telah dimasak oleh warga secara bergotong-royong. Suasana yang terbangun tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menyejukkan hati. Ada canda, tawa, dan rasa syukur yang mengalir begitu alami di tengah kebersamaan. Acara ini menjadi pengingat bahwa keberkahan tidak hanya datang dari hasil kerja, tetapi juga dari doa, rasa syukur, dan kepedulian sosial.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Rejomulyo, Bapak Tushandoro, menyampaikan kembali sejarah awal mula tradisi ini agar tidak dilupakan oleh generasi muda. Ia mengingatkan bahwa dahulu tradisi ini dilakukan sebagai bentuk permohonan agar hasil panen tidak diganggu binatang buas. Namun, seiring berjalannya waktu dan berubahnya kondisi lingkungan, binatang buas tidak lagi menjadi ancaman utama bagi warga desa. Maka dari itu, menurut beliau, makna dari acara ini harus bergeser menjadi lebih dalam dan relevan dengan zaman sekarang.
Beliau menyampaikan, bahwa maksud dan tujuan dari acara ini sekarang adalah sebagai bentuk pelestarian budaya, penghormatan terhadap leluhur, serta sarana untuk memohon agar masyarakat Desa Rejomulyo terhindar dari sifat-sifat yang buas, seperti amarah, egois, iri hati, dan tindakan-tindakan yang merugikan sesama. Dalam sambutannya, ia berkata, “Binatang buas mungkin sudah tidak ada di sekitar kita, tapi sifat-sifat buas bisa saja tumbuh di hati kita. Maka dari itu, mari kita jadikan tradisi ini sebagai pengingat agar kita tetap menjaga akhlak, saling menghormati, dan hidup dengan hati yang bersih.”
Pernyataan beliau disambut dengan hormat oleh masyarakat yang hadir. Ini menandakan bahwa tradisi yang sudah berjalan puluhan tahun ini bukan hanya ritual, tetapi sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang terus berkembang sesuai dengan tantangan zaman.
Semoga tradisi ini tidak sekadar menjadi warisan yang dilestarikan dalam bentuk kegiatan tahunan semata, melainkan terus tumbuh sebagai nafas kehidupan masyarakat Desa Rejomulyo yang memelihara nilai spiritual, menjaga warisan leluhur, serta menanamkan akhlak mulia di setiap generasi. Dengan begitu, Desa Rejomulyo bukan hanya dikenal sebagai tempat yang subur secara alam, tetapi juga subur dalam nilai, budaya, dan budi pekerti yang diwariskan dari masa ke masa.